Negri Senja
Hidupku penuh dengan kesedihan karena itu aku selalu mengembara. Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju kesuatu tempat entah dimana, namun kesdihanku tidak hilang. Kesedihan, ternyata memang bukan suatu yang bisa ditinggalkan, karena kesedihan berada didalam diri kita.
Itulah penggalan dari paragraph pertama roman karangan Seno Gumira Adjidarma yang berjudul Negri Senja. Sebuah roman yang ajaibnya kutemukan di perpustakaan. Pada awalnya niatku ke perpus adalah untuk membunuh waktu selama kurang lebih 2 jam menunggu test awal perekrutan karyawan, tetapi harapan ku untuk membuuh waktu ternyata tidak sampai pada tujuannya karna selama membaca buku ini yang kurasakan bukannya membunuh waktu tapi sebaliknya menjadikan waktuku yang habis selama membaca buku ini menjadi lebih hidup seperti yang tertulis di “lembar iklan” (cover bagian belakang) buku “inilah roman karya Seno Gumira Ajidarma yang akan membentangkan imaji Anda hingga tanpa batas”
Yup… membaca buku ini aku benar2 merasakan apa yang tertulis di lembar iklan benar adanya, selama membaca tak henti2nya di otak ini membayangkan apa yang di tulis di dalam buku, bahkan seringkali ku berhenti membaca beberapa saat hanya untuk memperjelas gambaran yang terekam di otak ini.
Buku terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) setebal xx + 244 halaman ini di awalai dengan lukisan pensil dari kolaborasi antara Poppy Dharsono untuk rancangan pakaian serta Margarita Maridina Chandra untuk visualisasinya. Bercerita tentang catatan seorang pengembara / musafir lata yang sedang melakukan perjalanan di sebuah negri yang tidak terdapat di dalam peta, negri ini ada tapi tiada, negri yang miskin dimana waktu seolah2 tidak bergerak, karna selalu berada dalam keadaan senja, matahari tertahan terus di cakrawala, tidak ada pagi, tidak ada siang, tidak ada malam yang ada hanya senja.
Konon, dan memang hanya konon negiri ini telah berdiri semenjak 500 tahun semenjak pengembara itu terdampar di negri ini, dan sejak 200 tahun ini di pimpin oleh Puan Tirana seorang perempuan buta yang memimpin dengan kejam di mana semua hal yang berbau pengetahuan dan kebebasan berpendapat merupakan hal yang sangat tabu di lakukan, ironis sekali, di negri yang sepertinya tiada pernah habis-habisnya cahaya senja yang teramat indah itu, kata cinta tidak ada definisinya tidak di fikiran penduduknya bahkan tidak juga ada dalam kamus bahasa “Antarbangsa – negri Senja dan NegriSenja – Antarbangsa” yang dipunyai musafir lata itu.
Selama kepemimpinan Tirana pemberontakan, penentangan, dan percobaan pembunuhan pun sering kali dilakukan terhadapnya, tapi dengan kemapuannya membaca fikiran setiap orang yang terkena sinar senja dan pasukan khusus beserta mata2 yang dipunyainya dia bisa menghancurkan serta memberengus semunya, bahkan konon, dan memang hanya konon arwah para pemberontak pun akan di penjarakannya dan selama itu pulalah semua penduduk Negri Senja berbicara seperlunya bahkan berfikirpun mereka batasi hanya pada tempat2 yang gelap, di lorong2 yang gelap dan pengap dimana cahaya senja tiak bisa menembus, mereka berani untuk berfikir dan berbicara tetapi itu pun hanya untuk hal2 yang dirasakan teramat sangat penting.
Masih terlalu banyak hal yang bisa di dapat ketika membca buku ini, selain ide dari kesaktian Tirana yang konon, dan memang hanya konon mempunyai kemampuan di luar perkiraan siapapun, di sini juga bisa kita dapatkan cerita tentang cintanya sipengembara
“ Menjadi setia artinya aku tidak akan melepaskan cintaku kepada mereka, namun itu tidak menutupi kenyataan betapa aku selalu jatuh cinta kepada siapapun dengan seketika dan untuk sementara, bagaikan kutukan pengembara yang selalu terpesona kepada senja, suatu perstiwa alam terindah dan hanya berlangsung sementara….”
“ .…. Setiap kali berpisah dengan orang2 tercinta, demikian kata pepatah, aku seperti mengalami kematian kecil yang begitu menyiksa, karna dalam kematian yang besar tentunya kita tidak merasakan apa-apa. Sering kupandang langit dimalam kulihat sebelum aku tiba di negri senja dan menyadari betapa diriku yang milyaran lebih kecil dari bintang2 di atas sana begitu kecil untuk merasa berhak menderita – namun ternyata aku selalu berlarat-larat dengan duka berkepanjangan tiada kira”
atau cerita tentang pembunuhan / pembantaian yang walaupun tergambar sadis tetapi bisa di ceritakan penulis dengan bahasa yang sama menghayutkannya seperti bahasa negri-senja-nya-Atta.
“ …. Kutangkap tangannya yang terkulai, masih hangat telapak tangannya di tanganku, dan kualami betapa merasa dekat aku padanya dengan kehilangan yang begitu menghempaskan . Akupun tidak mengenalnya sebagai suatu nama tetapi kurasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku telah pergi bersamanya, meninggalkan aku diantra mayat2 bergelimpangan, terserak dan terlantar dalam ancaman burung nazar yang mulai berterbangan”
Seperti salah satu resolusiku di awal tahun kemarin “untuk mencintai apa pun setiap hari” dan khusus hari sabtu sudah kusiapkan pada kegiatan kantorku, tapi ku mohon maaf untuk sabtu kemarin ternyata aku lebih mencintai negri senja.. Aku bukan tidak setia pada mu (rutinitas hari sabtu) tapi seperti kata musafir lata “Menjadi setia artinya aku tidak akan melepaskan cintaku kepada mereka(mu), namun itu tidak menutupi kenyataan betapa aku selalu jatuh cinta kepada siapapun dengan seketika… “
Tapi kenapa pesona negri senja ini tidak hanya kurasakan hanya di hari sabtu bahkan sekarang ini, di pergantian minggu pesona negri senja masih tetap terasa.. apakah pesona negri senja itu ternyata bukan hanya untuk sementara saja? Tapi ach.. sudahlah, toh jatuh cinta kepada keduanyapun secara bersamaan sepertinya bukan merupakan suatu kesilapan…

haduww…
baru kali ini gue baca blog lo , langsung diam terpaku, cy….T____T
iya , betul…kesedihan memang tidak bisa di tinggalkan, krn memang ada dalam diri kita….
dan soal setia…….
mmhm…setia bukan berarti menutup mata dan hati dari hal lain yg lebih indah yg bisa dicintai seketika atau sementara ya…?
jd…gue setia ga ya..?
:D
Comment by dyah — 17 January, 2006 @ 1:12 am
lo setia gak yach… ? mmmmmm….
lo belom pernah jadi ce gw sie.. jadi gak tau gw kadar setia lo se gimana eahueahueuae
Comment by cyak — 23 January, 2006 @ 9:43 am