Besi.. Lempung.. Panas.. Cair…

14 January, 2006

Iseng doang

Filed under: Lihat Sekitar Kita

siang hari di meja kerja

+ lagi Baca apaan, kayaknya serius amat..
- Ini baca buku cerita, bagus, kocak… kenapa?
+ Ich.. ini kan chiklit bacaan cewek, prasaan sering banget elo baca buku kayak ginian?
- Emang Klo bacaan cewek, cowok gak boleh baca yach…
+ Enggak juga sie.. gw adja yang cewek males.. terlalu ringan…
- oh.. lo mau caranya biar lo jadi suka baca buku ginian?
+ Emang bisa?
- Caranya.. lo baca buku ini sambil angkat barbel di ruang fitnes di atas….
+ ……………

Beberapa hari kemudian masih dengan orang yang sama

+ Masih baca buku yang kayak kemaren yach….
- Enggak… kan kemaren elo yang protes….
+ Emang sekarang buku apaan?
- Buku psikologi
+ nah gitu dong, biar ada gunanya juga lo ngabisin waktunya…
- ia….
+ Emang lo buat apaan sie baca gituan?
- Iseng adja…
+ ………………….

Kenapa semuanya harus terkotak2… mungkin klo untuk beberapa hal kita memang memerlukan penggolongan (semisal golongan darah dll) yang jika kita tidak pisahkan akan berakibat fatal tapi unutk buku? sejak kapan buku digolongkan berdasar jender, atau berdasarkan berat / tidak isinya (walaupun sampai sekarang gw gak tau kriteria berat enggak nya di mana), atau berdasarkan umur

klo menurut gw, dan mungkin hanya menurut gw… satu buku yang sama persis di berikan kepada beberapa orang, hal yang bisa di tangkap dari buku itu tidak akan 100% sama , masih menurut gw dan mugkin hanya menurut gw.. terkadang buku anak anak (kalau pun memenag ada pengelompokannya) sesudah kita baca lebih banyak hal yang kita dapatkan di bandingkan buku buku untuk orang dewasa (asumsi pengelompokan buku/bacaan berlaku)

sekali lagi menurut gw dan masih teuteup menurut gw… biarkan imajinasi yang lebih berperan ketika kita membaca buku… tidak perlu di pisah2kan ini buku buat apa or siapa toh pada akhirnya kesimpulan akhir dari membaca buku ada di pembaca … ** halah** sotoy banget bahsa lo yak, udah kayak yang tukang baca adja… he..3x

16 December, 2005

Slamat jalan bro….

Perpus, 02 Desember 2005

Pek… tadi sore sebelum pulang aku sempat membaca Koran disitu ada beberapa lembar halaman yang membahas masalah AIDS, bayangkan pek.. beberpa halaman.. bukan cuman satu, tapi beberapa… memang bukan ada di headline pek… (kalah dengan berita kebodohan-kebohan “mereka-yang-merasa–di-pertuan-agungkan” biasa pek.. korupsi dan impor beras.. he..3x, ingat pek.. pernah satu ketika kita lagi “on bareng” dan maen gitar nyanyikan lagu koes plus kolam susu…. pek.. ternyata sekarang negri kita sudah tidak ada kolam susu lagi pek.. karna untuk beras pun kita sudah menginpor dan susu juga bernasib tidak jauh beda) Aku benar benar gembira pek.. walaupun bukan di headline tapi isinya jauh berbeda dengan bebrapa tauhun lalu, bukan lagi tentang tertangkapnya seorang penderita HIV positif dengan pas photo penderitanya yang di tutup matanya “persis seperti terpidana mati” tapi lebih tentang pengetahuan tentang HIV itu sendiri serta perjuangan teman2 senasib seperti kamu pek…

Aku juga ingat dulu kamu pernah minta tolong diantar ke Penerbit Koran lokal untuk membuat iklan tentang HIV ternyata mereka tidak mau menayangkannya, dan saat itu dengan beberapa alasan yang aku tau pasti kamu bisa mennebak jawabanku aku tidak bisa (lebih tepatnya tidak mau) mengantarmu, dan pek.. yang semakin mumbuat ku sekarang semakin menyesal ketika kamu ceritakan penolakan dari Koran tersbut aku bukan menyemangatimu malah mentertawakanmu walaupun di dalam hati.. tapi seperti biasanya kamu juga tau… tapi pek.. lihat sekarang perjuangan kamu dulu itu tidak sia-sia, mereka mau membuat tulisan dan pembelajaran gratis tentang apa yang ada di dalam tubuhmu itu pek…

Pek.. coba lihat Koran ini, ada cerita tentang cara mereka bertahan hidup, cara mereka berjuang disisa hari2 mereka, disni ada semangat mereka pek.. sama seperti kamu dulu pek.. nah sekarang coba kita buka halaman berikutnya pek… lihat pek…. Dua halaman berikutnya isi nya juga sama pekk.. tentang perjuangan LSM yang merupan salah satu cita2 kamu dulu, tentang kenapa dan bagaimana virus itu bekerja dan lihat….. bewarna…tidak terlihat buram, indah… setidaknya akan menghilangkan kesan kusam tentang penyakitmu pek.. pek.. mereka sudah mau menulis apa yang dulu ingin sekali kamu iklankan, kamu sudah berhasill…

Tapi pek… masih banyak orang yang menganggap klo penyakit yang kamu derita itu adalah penyakit kutukan, kotor dan sudah sepantasnya mendapatkannya, buah dari ke salahan yang pernah kamu lakukan.. (tidak.. bukan hanya kamu aku pun pernah melakukannya, bahkan banyak orang yang pernah melakukannya) kalaupun itu benar penyakit kutukan kenapa tidak semuanya. Pek.. jangan salahkan mereka (walaupun aku tahu kamu pasti tidak) mungkin mereka sama seperti aku dulu pek… takut, kaget, dan merasa bersih, dan tidak mau tau tentang penderitanmu.

Dua tahun lalu aku semapat ketemu Acong dia banyak cerita tentang kamu pek.. dia cerita bagaimana kamu berkampanye, dia cerita tentang penolakan orang2 seperti ku, dia cerita tentang sekolah yang coba kamu rintis (mudah-mudahan tahun depan sudah mulai bisa beroperasi), cerita juga tentang bagaimana gigihnya perjuanganmu melawan virus itu. Dan pek… satu hal yang semakin membuat aku semakin malu ketika kamu cerita ke Acong klo kamu merasa hidupmu lebih bermakna justru setelah kamu sakit. Ia pek kamu harus merasa lebih bearti terutama di bandingkan orang2 seperti aku… Pek mungkin begitulah cara Tuhan menunjukkan jalan kebenaran. Dan sepertinya kamu sudah menemukan dan menmpuh jalan itu……

Empek (1975 – 2003)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft