Besi.. Lempung.. Panas.. Cair…

25 July, 2007

Gak ada ide

Filed under: Tengtang Gw

cukup-amat-sangat-lama juga blog ini gak keisi, banyak hal yang sebenarnya bisa di jadikan tulisan (tentunya dengan penuturan aneh gaya gw, aneh apa emang gak bisa cerita … ach sama adja keduanyapun teuteup ngebingungin) sebenarnya gw bisa cerita tentang suasana kantor yang banyak sekali perubahannya or tentang teman2 main yang sudah jarang sekali ketemunya or tentang suasana baru di kos-an baru juga atau tentang apa saja…
bukan sekali dua gw nyoba untuk nulis tapi selalu saja baru d mulai dengan 1 or 2 kalimat pertama selanjutnya mentokzzz…
sampai kemarin didapur atas tempat ngerokok paporit karna di sana disediakan bangku dan yang paling enaknya ada mesin pembuat kopi yang bisa bikin mata melek ces pleng kayak di starbuck… tapi dalam bentuk mini (dijamin rasa teuteup sama) dan yang paling enak semua gratis haeueahueahaeuhae ** teuteup boww gretongan nomber 1*** gw dan Bos-nya -Bos-Gw (BBG) sedang ngerokok bareng kebenaran saja jam tayang kita untuk urusan yang satu itu hampir selalu sama dan tiba2 BBG nanya ke Gw
BBG : kenapa bengong
Gw : gak pak lagi pusing adja ama kerjaa…
BBG : sama saya juga lagi pusing, tapi bukan gara2 kerjaa tapi gara2 banyak sekali pertanyaan di Blog sayah.. dan mereka nuntut jawaban secepatnya …
Gw : ohhh … **tampang bego***
BBG : kamu tau blog itu apan kan? **tampang intimidasi**
Gw : tau pak, saya juga punya **tampang datar again**

banyak sekali pertanyaan yang dia lontarkan dan akhirnya obrolan berlanjut tentang blog BBG yang semakin hari semakin banyak pengunjungnya dan semakin buanyak permintaan pertangung jawaban atas tulisannya dan beragamnya tanggapan dari tulisan2 dia mengenai ke agamaan…

BBG : kamu sendiri sudah berapa banyak yang mengunjungi per hari?
GW : *** bengong **** … mmmm gak tau pak gak pernah ngecek juga? lagian sekarang saya sudah lama gak nulis lagi..
BBG : kenapa?
GW : gak ada ide yang bisa di tulis adja pak….
BBG : Gak ada ide itu juga bisa di jadiin topik kok
GW : maksud Bapak? ** Tablo-nya keluar again****
BBG : yach kamu sekarang ngerasa gak ada ide… nah coba dengan ketidak-ada-annya-ide kamu itu kamu jadi kan suatu topik…… jadi topik nya lagi gak ada ide… trus kamu tulis deh.. coab adja… lama lama juga bisa jadi tulisan…
GW : ha..3x Bapak bisa adja
BBG : yach sudah saya sudah di tungguin meetingdi bawah… ** Ngeloyor langsung ke lantai bawah ***
GW : **bengong,, diem dan mikir***** apa bener yach….

dan sekarang jadilah tulisan ini haeuhaeuaeheuaheauhaeu…..

4 July, 2006

7^%&*(*&

Filed under: Tengtang Gw

Tuhan..
diantara kesombonganku kepada Mu
karena selalu alpa untuk mengingatMu
diantara Kekufuran ku
kanrena selau merasa kurang dengan yang sudah Kau beri

kumohon pada MU
berikan lagi kekuatan ku kembali
agar ku bisa bersabar dan terus bersabar

16 January, 2006

Negri Senja

Hidupku penuh dengan kesedihan karena itu aku selalu mengembara. Aku selalu berangkat, selalu pergi, selalu berada dalam perjalanan, menuju kesuatu tempat entah dimana, namun kesdihanku tidak hilang. Kesedihan, ternyata memang bukan suatu yang bisa ditinggalkan, karena kesedihan berada didalam diri kita.

Itulah penggalan dari paragraph pertama roman karangan Seno Gumira Adjidarma yang berjudul Negri Senja. Sebuah roman yang ajaibnya kutemukan di perpustakaan. Pada awalnya niatku ke perpus adalah untuk membunuh waktu selama kurang lebih 2 jam menunggu test awal perekrutan karyawan, tetapi harapan ku untuk membuuh waktu ternyata tidak sampai pada tujuannya karna selama membaca buku ini yang kurasakan bukannya membunuh waktu tapi sebaliknya menjadikan waktuku yang habis selama membaca buku ini menjadi lebih hidup seperti yang tertulis di “lembar iklan” (cover bagian belakang) buku “inilah roman karya Seno Gumira Ajidarma yang akan membentangkan imaji Anda hingga tanpa batas”

Yup… membaca buku ini aku benar2 merasakan apa yang tertulis di lembar iklan benar adanya, selama membaca tak henti2nya di otak ini membayangkan apa yang di tulis di dalam buku, bahkan seringkali ku berhenti membaca beberapa saat hanya untuk memperjelas gambaran yang terekam di otak ini.

Buku terbitan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) setebal xx + 244 halaman ini di awalai dengan lukisan pensil dari kolaborasi antara Poppy Dharsono untuk rancangan pakaian serta Margarita Maridina Chandra untuk visualisasinya. Bercerita tentang catatan seorang pengembara / musafir lata yang sedang melakukan perjalanan di sebuah negri yang tidak terdapat di dalam peta, negri ini ada tapi tiada, negri yang miskin dimana waktu seolah2 tidak bergerak, karna selalu berada dalam keadaan senja, matahari tertahan terus di cakrawala, tidak ada pagi, tidak ada siang, tidak ada malam yang ada hanya senja.

Konon, dan memang hanya konon negiri ini telah berdiri semenjak 500 tahun semenjak pengembara itu terdampar di negri ini, dan sejak 200 tahun ini di pimpin oleh Puan Tirana seorang perempuan buta yang memimpin dengan kejam di mana semua hal yang berbau pengetahuan dan kebebasan berpendapat merupakan hal yang sangat tabu di lakukan, ironis sekali, di negri yang sepertinya tiada pernah habis-habisnya cahaya senja yang teramat indah itu, kata cinta tidak ada definisinya tidak di fikiran penduduknya bahkan tidak juga ada dalam kamus bahasa “Antarbangsa – negri Senja dan NegriSenja – Antarbangsa” yang dipunyai musafir lata itu.

Selama kepemimpinan Tirana pemberontakan, penentangan, dan percobaan pembunuhan pun sering kali dilakukan terhadapnya, tapi dengan kemapuannya membaca fikiran setiap orang yang terkena sinar senja dan pasukan khusus beserta mata2 yang dipunyainya dia bisa menghancurkan serta memberengus semunya, bahkan konon, dan memang hanya konon arwah para pemberontak pun akan di penjarakannya dan selama itu pulalah semua penduduk Negri Senja berbicara seperlunya bahkan berfikirpun mereka batasi hanya pada tempat2 yang gelap, di lorong2 yang gelap dan pengap dimana cahaya senja tiak bisa menembus, mereka berani untuk berfikir dan berbicara tetapi itu pun hanya untuk hal2 yang dirasakan teramat sangat penting.

Masih terlalu banyak hal yang bisa di dapat ketika membca buku ini, selain ide dari kesaktian Tirana yang konon, dan memang hanya konon mempunyai kemampuan di luar perkiraan siapapun, di sini juga bisa kita dapatkan cerita tentang cintanya sipengembara

“ Menjadi setia artinya aku tidak akan melepaskan cintaku kepada mereka, namun itu tidak menutupi kenyataan betapa aku selalu jatuh cinta kepada siapapun dengan seketika dan untuk sementara, bagaikan kutukan pengembara yang selalu terpesona kepada senja, suatu perstiwa alam terindah dan hanya berlangsung sementara….”

“ .…. Setiap kali berpisah dengan orang2 tercinta, demikian kata pepatah, aku seperti mengalami kematian kecil yang begitu menyiksa, karna dalam kematian yang besar tentunya kita tidak merasakan apa-apa. Sering kupandang langit dimalam kulihat sebelum aku tiba di negri senja dan menyadari betapa diriku yang milyaran lebih kecil dari bintang2 di atas sana begitu kecil untuk merasa berhak menderita – namun ternyata aku selalu berlarat-larat dengan duka berkepanjangan tiada kira”

atau cerita tentang pembunuhan / pembantaian yang walaupun tergambar sadis tetapi bisa di ceritakan penulis dengan bahasa yang sama menghayutkannya seperti bahasa negri-senja-nya-Atta.

“ …. Kutangkap tangannya yang terkulai, masih hangat telapak tangannya di tanganku, dan kualami betapa merasa dekat aku padanya dengan kehilangan yang begitu menghempaskan . Akupun tidak mengenalnya sebagai suatu nama tetapi kurasakan sesuatu yang berbeda dalam diriku telah pergi bersamanya, meninggalkan aku diantra mayat2 bergelimpangan, terserak dan terlantar dalam ancaman burung nazar yang mulai berterbangan”

Seperti salah satu resolusiku di awal tahun kemarin “untuk mencintai apa pun setiap hari” dan khusus hari sabtu sudah kusiapkan pada kegiatan kantorku, tapi ku mohon maaf untuk sabtu kemarin ternyata aku lebih mencintai negri senja.. Aku bukan tidak setia pada mu (rutinitas hari sabtu) tapi seperti kata musafir lata “Menjadi setia artinya aku tidak akan melepaskan cintaku kepada mereka(mu), namun itu tidak menutupi kenyataan betapa aku selalu jatuh cinta kepada siapapun dengan seketika… “

Tapi kenapa pesona negri senja ini tidak hanya kurasakan hanya di hari sabtu bahkan sekarang ini, di pergantian minggu pesona negri senja masih tetap terasa.. apakah pesona negri senja itu ternyata bukan hanya untuk sementara saja? Tapi ach.. sudahlah, toh jatuh cinta kepada keduanyapun secara bersamaan sepertinya bukan merupakan suatu kesilapan…

9 January, 2006

I love Sabtu

Filed under: Tengtang Gw

Matahari pagi sinarnya sudah memasuki dapur melalui asbes yang terbuat dari “viber glass” mungkin dahulu kala sang arsitek kos tempat aku tinggal merancang agar supaya ruangan belakang mejadi lebih terang disaat siang hari, dengan harapan pemakaian listrik buat ruang itu agak hemat…. Tapi tidak tau dari mana idenya sekarang cahaya matahari pagi di kos itu ku jadikan alarm-bisu yang sangat efektif sebagai pertanda waktunya untuk siap-siap berangkat kerja…..

Seperti hari hari kemarin.. pagi ini aku terbangun “lagi-lagi” setelah alarm di ruangan itu (dapur plus kamar madi plus ruang/lemari baju) terang benderang.. pagi tadi sempat juga aku terbangun beberapa saat masjid di depan kos mengumandangkan adzan subuh.. tapi itu hanya mampu membuat ku untuk duduk sebentar… liat jam di hand phone, dan untuk kemudian tidur kembali, tapi untuk alarm-bisu ini aku sudah tidak bisa menolak karna hari ini adalah hari sabtu pagi… yach… sabtu pagi.. saatnya untuk pergi kekantor…

Aku cinta Sabtu… seperti salah satu harapanku di tahun ini bahwa setiap hari jatuh cinta.. khusus untuk setiap hari sabtu kusiapkan utuk mencintai kegiatan kantorku… mungkin seperti yang lainnya pada awalnya aku merasa sangat tersiksa dengan aktivitas kantor yang tetap berjalan di hari sabtu. Sedang kan aku harus bangun lebih awal setengah jam dari hari-hari biasanya, karna jam kantor memang mulai lebih cepat setengah jam. Tapi tetap walau harus bangun lebih cepat, sedangkan di-bagian-dunia-teman2-lain sedang tertidur pulas setelah semalam menghabiskan waktu sampai menjelang subuh. tidak bisa menghalangi kecintaanku kepada aktivitas kantor di hari sabtu yach… Aku cinta aktivitas kantor di hari sabtu……….

16 December, 2005

Slamat jalan bro….

Perpus, 02 Desember 2005

Pek… tadi sore sebelum pulang aku sempat membaca Koran disitu ada beberapa lembar halaman yang membahas masalah AIDS, bayangkan pek.. beberpa halaman.. bukan cuman satu, tapi beberapa… memang bukan ada di headline pek… (kalah dengan berita kebodohan-kebohan “mereka-yang-merasa–di-pertuan-agungkan” biasa pek.. korupsi dan impor beras.. he..3x, ingat pek.. pernah satu ketika kita lagi “on bareng” dan maen gitar nyanyikan lagu koes plus kolam susu…. pek.. ternyata sekarang negri kita sudah tidak ada kolam susu lagi pek.. karna untuk beras pun kita sudah menginpor dan susu juga bernasib tidak jauh beda) Aku benar benar gembira pek.. walaupun bukan di headline tapi isinya jauh berbeda dengan bebrapa tauhun lalu, bukan lagi tentang tertangkapnya seorang penderita HIV positif dengan pas photo penderitanya yang di tutup matanya “persis seperti terpidana mati” tapi lebih tentang pengetahuan tentang HIV itu sendiri serta perjuangan teman2 senasib seperti kamu pek…

Aku juga ingat dulu kamu pernah minta tolong diantar ke Penerbit Koran lokal untuk membuat iklan tentang HIV ternyata mereka tidak mau menayangkannya, dan saat itu dengan beberapa alasan yang aku tau pasti kamu bisa mennebak jawabanku aku tidak bisa (lebih tepatnya tidak mau) mengantarmu, dan pek.. yang semakin mumbuat ku sekarang semakin menyesal ketika kamu ceritakan penolakan dari Koran tersbut aku bukan menyemangatimu malah mentertawakanmu walaupun di dalam hati.. tapi seperti biasanya kamu juga tau… tapi pek.. lihat sekarang perjuangan kamu dulu itu tidak sia-sia, mereka mau membuat tulisan dan pembelajaran gratis tentang apa yang ada di dalam tubuhmu itu pek…

Pek.. coba lihat Koran ini, ada cerita tentang cara mereka bertahan hidup, cara mereka berjuang disisa hari2 mereka, disni ada semangat mereka pek.. sama seperti kamu dulu pek.. nah sekarang coba kita buka halaman berikutnya pek… lihat pek…. Dua halaman berikutnya isi nya juga sama pekk.. tentang perjuangan LSM yang merupan salah satu cita2 kamu dulu, tentang kenapa dan bagaimana virus itu bekerja dan lihat….. bewarna…tidak terlihat buram, indah… setidaknya akan menghilangkan kesan kusam tentang penyakitmu pek.. pek.. mereka sudah mau menulis apa yang dulu ingin sekali kamu iklankan, kamu sudah berhasill…

Tapi pek… masih banyak orang yang menganggap klo penyakit yang kamu derita itu adalah penyakit kutukan, kotor dan sudah sepantasnya mendapatkannya, buah dari ke salahan yang pernah kamu lakukan.. (tidak.. bukan hanya kamu aku pun pernah melakukannya, bahkan banyak orang yang pernah melakukannya) kalaupun itu benar penyakit kutukan kenapa tidak semuanya. Pek.. jangan salahkan mereka (walaupun aku tahu kamu pasti tidak) mungkin mereka sama seperti aku dulu pek… takut, kaget, dan merasa bersih, dan tidak mau tau tentang penderitanmu.

Dua tahun lalu aku semapat ketemu Acong dia banyak cerita tentang kamu pek.. dia cerita bagaimana kamu berkampanye, dia cerita tentang penolakan orang2 seperti ku, dia cerita tentang sekolah yang coba kamu rintis (mudah-mudahan tahun depan sudah mulai bisa beroperasi), cerita juga tentang bagaimana gigihnya perjuanganmu melawan virus itu. Dan pek… satu hal yang semakin membuat aku semakin malu ketika kamu cerita ke Acong klo kamu merasa hidupmu lebih bermakna justru setelah kamu sakit. Ia pek kamu harus merasa lebih bearti terutama di bandingkan orang2 seperti aku… Pek mungkin begitulah cara Tuhan menunjukkan jalan kebenaran. Dan sepertinya kamu sudah menemukan dan menmpuh jalan itu……

Empek (1975 – 2003)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Riosoft